09 Mei 2018

Fahri Hamzah dan Mei 1998 (Bagian II)

 

Oleh

Indra J Piliang

Ketua Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute

 

Uraian tentang Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (FK SMPT) menjadi panjang dalam ulasan sebelumnya, dengan seikit porsi atas nama Fahri Hamzah. Sengaja saya memberikan gambaran itu, agar makna kehadiran SMPT tetap mendapat tempat. Aktivis-aktivis mahasiswa yang bergabung dalam SMPT bukanlah “Anak-anak Rektorat” atau “Binaan Penguasa”, dibandingkan dengan kelompok mahasiswa ekstra kampus yang lebih memilih isu-isu kerakyatan seperti Tegak Lima, SMID, Partai Rakyat Demokratik dan lain-lain. Bahwa menjadi aktivis mahasiswa lembaga intra kampus yang formal juga menghadapi resiko yang tak mudah.

 

Pernah, suatu ketika, saya memberikan pengumuman di Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) seusai sholat Jumat tentang kehadiran ribuan buruh dari PT Ganda Guna Indonesia. Saya meminta para mahasiswa UI untuk mengawal dan menyambut mereka. Saya lihat ada kawan-kawan saya di barisan buruh itu, yakni Wignyo dan Dita Indah Sari. Saya mengawal mereka sampai ke halaman Rektorat UI. Sorenya, saya dipanggil oleh Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Saya dianggap sudah menyalahi wewenang sebagai pengurus Senat Mahasiswa UI. Saya katakan bahwa saya adalah semacam “Menteri Luar Negeri” dalam SMUI, sehingga siapapun tamu yang datang, wajib bagi saya untuk memberikan sambutan.

 

Begitu juga dalam kasus pemecatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung oleh Rektor Wiranto Arismunandar. Saya memberikan pendapat dalam mimbar bebas yang diadakan untuk itu. Hampir saja terjadi bentrok fisik antara kelompok saya – antara lain Subuh Prabowo dan Hadi Juwanda – dengan kelompok Robertus Robert, Ikravany Hilman dan Budi Arie Setiadi (Muni). Bahkan, ada mahasiswa FEUI yang menangis. Padahal, usai acara itu, saya dan kelompok Muni kembali rangkul-rangkulan, lalu duduk di kantin Dibawah Pohon Rindang (Kantin DPR). Bagaimanapun, para aktivis kampus punya cara untuk melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa yang apatis, begitu juga mahasiswa baru. Dengan sedikit pertunjukan teatrikal, perhatian mahasiswa yang apatis bisa diraih.

 

***

 

Pertarungan yang benar-benar melibatkan semua tokoh mahasiswa terjadi dalam Pemira SMUI 1996. Seluruh macan kampus bergabung dalam tiga kelompok. Calon-calon Ketua Senat Mahasiswa UI yang munculpun berbobot, yakni Selamat Nurdin, Budi Septriyono dan Subuh Prabowo. Kelompok tarbiyah menggabungkan kekuatan dalam diri Selamat Nurdin (FISIP UI), kelompok aktivis mahasiswa generasi senior merapatkan diri dalam diri Subuh Prabowo (FISIP UI), sementara kekuatan yang melakukan aksi boikot  Pemira 1995 memajukan Budi Septriyono (FT UI). Sistem pemilihan juga diubah, yakni setiap kandidat didampingi oleh senator masing-masing.

 

Namun, dibalik ketiga kandidat itu, terjadi pertarungan segitiga antara Fahri Hamzah (Selamat Nurdin), Fadli Zon (Subuh Prabowo) dan saya (Busept). Saya dan Kun Nurachadijat yang sama-sama aktivis HMI malah menjadi Senator Nomor Satu dan Senator Nomor Dua bagi Busept. Seluruh elemen gerakan mahasiswa di UI nyaris bergerak, baik dari kalangan ikhwan, anak-anak kantin, anak-anak indepth, aktivis mahasiswa ekstra kampus, sampai senior-senior yang jarang muncul.

 

Walaupun Subuh Prabowo adalah Sekretaris Umum dari Panitia Pelaksana (OC)  Simposium Nasional Angkatan Muda 1990an: Menjawab Tantangan Abad 21 (SNAM) – dan saya adalah Ketua OC-nya --, ataupun selama ini Subuh dianggap sebagai bodyguard dan panglima perang nomor satu saya dalam setiap konflik dengan kelompok mahasiswa yang lain, saya sama sekali tak menjadikannya sebagai masalah personal. Sampai kapanpun saya dan Subuh, pun dengan Fahri, Fadli dan aktivis-aktivis mahasiswa lainnya, tetaplah sahabat dalam semesta almamater kami. Jika saya lebih banyak tampil orasi dengan membaca puisi, pun perawakan seperti Soe Hok Gie yang kurus; Subuh dianggap adalah representasi dari Hariman Siregar waktu muda.

 

***

 

Saya dan Subuh dikenal sebagai duo sejoli Soe Hok Gie – Hariman Siregar. Dari semua kawan selama menjadi aktivis mahasiswa UI, Subuhlah yang benar-benar menjadi muntahan segala macam persoalan saya, begitupun sebaliknya. Tak jarang kami “berdebat” dengan cara memegang kerah leher masing-masing. Pernah Subuh marah besar ke saya, karena berbaik hati membayar hutang kegiatan kemahasiswaan kepada pihak Rektorat UI. Ada sebuah bank swasta yang memberikan donasi jutaan rupiah kepada acara kami, namun terlambat memberikan kabar. Bagi Subuh yang memang anak Tanjung Priok itu, saya adalah aktivis mahasiswa paling lugu, naif dan bodoh. 

 

“Dalam laporan keuangan Rektorat UI, sudah ada pengeluaran sejumlah sekian untuk kegiatan XYZ. Lah, ini sudah berapa bulan berlalu? Kan Laporan Pertanggungjawaban kita sudah diterima pihak Rektorat UI? Sudah tutup buku. Dana itu kan bisa dipakai untuk kegiatan lain?” ujar Subuh, sengit. Saya hanya nyengir.

 

Lembaran catatan harian saya paling banyak membeberkan dialog-dialog kami, termasuk soal-soal asmara. Ahaay. Keputusan Subuh untuk kemudian menjadi sahabat Fadli Zon – sampai hari ini --, bukan berarti tanpa perdebatan. Terdapat beberapa kawan lain yang mencoba berbisik yang ajaib-ajaib kepada saya.

 

Saya hanya bilang: “Loyalis terbaik gue sekarang ada di samping orang yang lu anggap musuh gue. Gue atau Fadli yang cerdik?”

 

Sejumlah puisi saya tulis untuk Subuh. Ini salah satunya:

 

Demonstran

: Subuh Prabowo

 

Puluhan poster, spanduk.

Matahari terik, tertunduk.

Kata-kata mencabik, menusuk.

 

Sidang-sidang kilat.

Ide-ide berdebat.

Muka-muka pucat.

Emosi berkelebat.

Suara meraung pecahkan waktu yang tercekat.

Puntung rokok menyala dalam ruangan rapat.

 

Ada kenaifan dalam sikap.

Nada-nada konservatif mengalun tanpa melodi.

Wajah-wajah oportun menghitung kursi-kursi dewan perwakilan.

Gedung-gedung di Jalan Sudirman melambaikan tangan.

Perut buncit menyembul dari mercy yang diparkir di rumah-rumah pelesir luar kota.

Kebun teh diam menahan geram.

 

Lalu lintas macet.

Puluhan kamera menjepret.

Para penumpang bis kota saling gencet.

Sirine mobil polisi memekik seret.

Pedagang asongan berderet.

Para pejabat mengkeret.

Datang dengan jam karet.

 

Pernyataan sikap dibaca.

Yel-yel basi mengudara.

Perbendaharaan caci maki menggema.

Puisi-puisi melantun jadi senjata.

 

“Tunggu saja, usul kalian ditampung!” katanya.

 

Salah siapa?

Kita atau mereka?

 

Lenteng Agung, 04 Maret 1995

 

 

Tapi, sekali lagi, hubungan saya dengan Subuh sama sekali tak ditingkahi adu kuat dalam politik. Bagaimana bisa adu kuat? Saya sering menguji seberapa luas saya memiliki nilai-nilai humanitas. Subuh? Silakan ia terus menjadi Ares, Dewa Perang Yunani. Kehadiran Subuh paling dipercakapkan dalam kelompok Busept. Setiap ada informasi yang tak sesuai dengan fakta, atau hanya analisa efek kurang tidur, sudah pasti saya patahkan. Lama-lama, saya juga bisa kena fitnah sebagai sosok yang membantu Subuh dan Fadli berbuat kotor, bukan? Kalau ada yang perlu pandangan berbeda, saya pasti mengontak Bagus Hendraning.

 

“Kalian ini kayak orang pacaran saja, bertengkar terus. Mana pacar juga tidak punya, hidup kayak bergolak terus. Ngapain sih ribut-ribut?” begitu kata Bagus. Bagus memang adalah tokoh yang lebih banyak mengakurkan kami berdua. Di samping senior, latar belakang Bagus tentulah jadi alasan. Saya masih ingat tempat tinggalnya yang elite: Taman Alva Indah. Sudah kaya, humoris, gembrot lagi.

 

Subuh hanya patah arang kalau sudah menyangkut asmara. Berbulan-bulan saya menemaninya mengejar seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UI. Mahasiswi itu adalah anggota kepanitiaan kamidi SNAM. Bagi saya yang setiap hari dikelilingi mahasiswi-mahasiswi cantik di Hollywood van UI, tentu merasa heran dengan pilihan Subuh. Mahasiswi yang ia taksir itu berperawakan mirip Polwan, gagah, tinggi dan tak berkulit putih. Kalau sudah soal yang satu ini, saya bisa makan dua kali sehari ditraktir oleh Subuh. Sebaliknya, Subuh juga dengan bahasa jorok menanyakan hubungan saya dengan pacar saya satu-satunya sebagai Piala Pemira SMUI 1995: Faridah Thulhotimah.

“Emang kalau lu pacaran dengan Ida, gimana? Sudah ngapain aja?”

“Ngisi Teka Teki Silang. Setiap hari beli buku TTS dan mengisinya di jalan,” jawab saya.

“Terus? Pegang tangan doang?”

“Woi, gini-gini gue masih ikhwan. Lagian, Nyokap Ida kan Bu Hajah,” kata saya.

 

Sementara hubungan saya dengan Selamat Nurdin relatif baik. Dia salah satu Ketua Senat Fakultas yang paling baik dalam beretorika. Di luar dia, saya tentu mengenal hampir seluruh Ketua Senat Fakultas dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Kalau yang flamboyan, tentu Yaswin Iben Sina, Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Yang banyak melucunya Indra Kusuma, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UI, Wakil Ketua dalam SNAM. Kehadiran Selamat Nurdin sebetulnya tak terduga. Semula, saya menangkap infomasi bahwa yang maju adalah Fahri Hamzah. Entah mengapa, Fahri dinilai tak terlalu mewakili karakter ikhwan kampus.

 

Saya pikir Fahri malah meradang, mengingat perannya yang membesar dalam era Komaruddin. Rupanya Fahri masih tegak lurus, tak lantas bergabung juga dengan Afdeling B bersama saya. Fahri menjadi Campaign Manager (CM) Selamat Nurdin dan mulai unjuk gigi kemampuan orasinya dalam panggung-panggung kampanye. Kalau dihitung, Pemira SMUI 1996 adalah kali kedua Fahri menjadi CM. Ya, pas Fahri menjadi CM di FEUI untuk Komaruddin, melawan CM saya Rama Pratama dalam Pemira SMUI 1995.

 

***

 

Fadli Zon? Ini sebetulnya juga kehadiran kedua setelah Pemira SMUI 1994 yang dimenangkan oleh Zulkieflimansyah. Waktu itu, Fadli hendak tampil sebagai salah satu calon Ketua Harian SMUI. Ia sudah membangun kekuatan bersama para senior, termasuk Nadya Madjid dan tandemnya: Reni Budi Lestari. Belakangan, Fadli mundur. Ia muncul dengan istilah “fasisme relegius” terhadap kalangan ikhwan kampus. Fadli memang pengguna istilah-istilah yang aduhai. Kepada kelompok kiri yang kembali membicarakan Pramodya Ananta Toer, Fadli menggunakan istilah “puber ideologi”. Beberapa kali saya bentrok dengan Fadli dan Pak Taufik Ismail, ketika buku “Prahara Budaya” dibedah di kampus-kampus. Padahal, saya dan Fadli mulai berteman – dengan catatan bahwa Fadlilah yang mengajak saya menjadi temannya – ketika ia menjadi CM Calon Ketua Senat Mahasiswa FSUI Pandji Kian Santang. Satu pertanyaan saya kepada kandidat lawan dari Pandji di Ruang II3, dianggap Fadli sebagai “pertanyaan yang membunuh dan mengalahkan kaum kiri” di FSUI.

 

Barangkali, sikap Fadli itu dilandasi oleh ketidak-tahuan hubungan saya yang unik dengan kelompok merah dan kelompok hijau di FSUI yang notabene adalah senior-senior saya. Dua sosok utamanya adalah Arfandi Lubis (almarhum) dan Mustafa Kamal. Kedua orang senior ini rajin meminjamkan buku-bukunya kepada saya. Arfandi meminjamkan buku-buku kiri, Kamal meminjamkan buku-buku kanan. Sebaliknya, Arfandi dan Kamal saling bertukar buku. Dan saya menjadi murid dari dua kutub yang berseberangan ini selama bertahun-tahun sampai Arfandi meninggal dunia akibat kanker usus.

 

“Bagi Arfandi, saya adalah Abu Bakar Siddiq. Sementara dia sendiri: Umar bin Khattab,” begitu kata Mustafa Kamal kepada saya.

 

Makanya, saya tak berada dalam posisi yang taat, ketika memandang persoalan. Info yang saya dapat, kenapa saya gagal menjadi Asisten Dosen di Jurusan Ilmu Sejarah FSUI – sebelum Rektorat UI me-Lemhannas-kan saya – adalah “Indra itu seorang Marxis.” Sementara saya tak peduli dengan anggapan itu. Toh Muhammad Hatta juga dituduh sebagai seorang Marxis oleh para penuntutnya di Belanda, ketika Hatta mengeluarkan tulisan-tulisan krisis anti kolonial. Marxis, sepanjang ia hanya bagian dari pola pikir (dialektika, tesis, anti tesis, sintesis, dan seterusnya), bagi saya bukanlah sistem ideologi yang patut ditakuti. Karena itulah, saya pernah mengirim sebuah kolom ke Majalah Gatra, tempat kolom Fadli dimuat dalam edisi sebelumnya. Judul yang saya tulis: “Hegemoni Intelektual Karl Marx”. Sayang, artikel saya itu tak dimuat dan hanya menjadi bahan diskusi teman-teman saya yang membacanya.

 

***

 

Busept? Ia hanya seorang yang diangkat para elite kelompok independen dan sebetulnya anti-SMUI ke panggung Pemira SMUI 1996. Jejak saya dan Busept lumayan panjang, yakni sama-sama suka melakukan aksi demonstrasi yang beresiko tinggi. Bersama 34 orang mahasiswa UI lainnya, saya dan Busept pernah melakukan aksi demonstrasi malam-malam dengan naik kereta api ke Bina Grha, Jakarta, pada tanggal 15 Agustus 1995. Saat itu, ada jamuan makan malam antara Ratu Beatrix dari Belanda dengan Presiden Soeharto, dalam rangka hubungan 50 Tahun Hubungan Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Empat orang ditangkap, termasuk Busept. Foto kami menghiasi semua halaman koran.

Nah, demonstrasi malam ini juga kami lakukan pada saat Breidel 1994: Tempo, Editor dan Detik. Saya kurang ingat, apakah Busept ada. Yang jelas, semua pendukungnya dalam Pemira SMUI 1996 hadir: Budi Arie Setiadi, Ikravany Hilman, Robertus Robert, Achmad Noerhoeri dan lain-lain.

Ia jago berdiskusi, tetapi tentu tak sehebat Gatot Priyo Utomo, kawan saya yang juga anak FTUI. Saya sering berdiskusi dengan Gatot di kostan Syamsul Hadi. Gatot (FTUI), Syamsul (FISIP UI) dan saya adalah tiga orang yang haus ilmu, namun gelagapan kalau sudah bicara asmara. Gatot asal Lampung, Syamsul asal Ciamis yang melakoni ilmu-ilmu laduni yang tak masuk akal. Belakangan, Syamsul jadi lulusan terbaik dari Hosei University di Jepang, padahal ketika melamar tak bisa sepatahpun berbahasa Jepang. Sayang, ia meninggal dunia dalam usia muda, yakni bulan Oktober 2014 lalu. Disertasinya menjadi disertasi terbaik yang menjadi rujukan sejumlah kepala negara, terutama Malaysia, guna menghadapi krisis ekonomi 1998. Saya dan Gatot menangis bak anak kecil pas tahu kematian mendadak Syamsul.

 

Dan saya juga perlu tulis bahwa Syamsul Hadi, Rizal Ramli, Romo Magnis Suseno dan Thamrin Amal Tomagola adalah Dosen-dosen yang melakukan “Sidang Akademis” yang memutuskan agar saya terjun sebagai politisi pada tahun 2009. Rumah Rizal Ramli di Tebet sebagai area yang membuat saya melakukan pidato di Universitas Paramadina: Dari Analis Politik, Menjadi Politisi. Saya mungkin tulis ini lain kali.

 

Banyak trik hitam dan trik putih yang dipakai selama proses kampanye Pemira SMUI 1996 itu. Ada kejadian “kwitansi Muslih” seharga jutaan rupiah sebagai sumber dana yang dituduhkan kepada Busept yang hampir memunculkan perkelahian massal. Setiap hari, saya dijaga oleh beberapa orang mahasiswa sangar FTUI sebagai Senator Nomor Satu. Kalau berkumpul di Posko Busept dekat kampus Fakultas Hukum UI, saya yang tidur di atas dipan, sementara Busept dan lain-lain tidur di lantai. Penjagaan kepada saya jauh lebih hebat dari Pemira SMUI 1995. Paling banter, dalam Pemira SMUI 1995 itu, ada seorang anak pejabat polisi yang sekarang menjadi pengacara yang bakal teriak, kalau ada sikap bermusuhan dari kelompok mahasiswa lain.

 

“Siapapun yang berani menyentuh IJP, gue tembak!” itu saja katanya. Dia memang membawa beceng alias pistol bapaknya ke kampus untuk mengawal saya.

 

(Saya jadi ingat, almarhum ayah menegur saya. “Kamu kenapa jadi aktivis? Yang kamu hadapi anak-anak jenderal,” kata ayah saya. Saya dengan enteng bilang ke ayah saya, “Yah, anak-anak jenderal itu yang menjadi bodyguard saya.”)

 

Walau tak ada beceng dalam Pemira SMUI 1996, bukan berarti tanpa ada senjata. Ada pedang dan clurit yang digunakan untuk berjaga-jaga. Seingat saya, sejak era Dewan Mahasiswa tahun 1970-an, mahasiswa UI yang intelek dan jenius itu sudah membekali diri dengan senjata-senjata tajam tiap kali ada pemilihan. Syukurlah, semua senjata itu hanya bagai pedang-pedangan dan pisau-pisauan yang dipakai oleh punakawan dalam panggung Srimulat di layar televisi: Semar, Petruk, Bagong dan Gareng.

 

Singkat cerita, Selamat Nurdin menang. Busept kalah 500 suara. Celakanya, Subuh hanya mendapat 500 suara. Jadilah Subuh (dan Fadli) sebagai pihak tertuduh yang menghalangi Busept menjadi pemenang. Andai Subun tidak maju, Busept menang. Hanya saja, kalau ada yang memakai logika otak atik atuk itu ke saya, saya juga bawa hasil Pemira SMUI 1995: Andai Munis C.s dan Busept C.s tidak melakukan boikot atau golput, maka saya akan menang melawan Komaruddin. Bagaimanapun, saya tentu salut dengan quickly count yang muncul sebelum kotak suara dibuka itu. Sepolitis-politisnya anak UI, sepandir-pandirnya sebagai politikus kampus, tetap saja matematika jalan. Buktinya? Sebaran suara masing-masing pendukung sudah ada di masing-masing CM.

 

Dua kali Fahri Hamzah menang dari saya, dua kali juga ia menjungkalkan Fadli Zon – tentu termasuk psywar agar Fadli tak maju dalam Pemira SMUI 1994 --. Dalam drama dua kali itu, dalam hubungan kami bertiga, saya tetaplah berada di tengah-tengah keduanya. Fahri atau Fadli tak bisa menginjak jempol kaki saya. Saya? Tentu bisa, mengingat kalau condong ke salah satu di antara keduanya, terma yang digunakan Fadli bisa hidup, sekaligus juga bisa mati.

 

Hmmm, fasisme relegius... Puber ideologi...

 

(Bersambung)

 

Catatan Post Factum sebagai “penunjuk arah” bagi pembaca yang ingin lebih tahu tentang nama-nama sosok aktivis atau mahasiswa yang saya nukil dalam narasi ini:

1.      Fahri Hamzah: Wakil Ketua DPR RI dan entah kenapa, malah melaporkan presiden partainya ke polisi, sering mengadakan diskusi sambil ngopi di pelbagai kota di Indonesia.

2.      Wignyo: sempat menjadi aktivis PRD, dipenjarakan dan kini saya tidak tahu ada dimana, walau sayup kabarnya sudah jadi orang sukses.

3.      Dita Indah Sari: suaranya melengking parau kalau memimpin demo, menjadi tokoh buruh dan kini menjadi staf khusus menteri.

4.      Subuh Prabowo: pernah jadi politisi PPP, sekarang  Direktur Eksekutif (pokoknya eksekutif) HKTI, dengan berat badan tiga kali lipat dibandingkan dengan era jadi “Hariman Siregar” Muda.

5.      Hadi Juwanda: kurus tubuhnya, ceking potongannya, tapi berbicara tegas seolah seorang panglima tempur yang tak pandai becanda, lalu benar-benar memilih menjadi Perwira TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir kolonel yang mudah-mudahan tingkat jenderal.

6.      Robertus Robert: sosiolognya ilmu sosiologi, tulisannya keren, bicaranya doktriner, satu-satunya orang yang mungkin ditakuti oleh Rocky Gerung yang lagi naik daun di media sosial.

7.      Ikravany Hilman: alasan utama Ikra menerima saya sebagai anggota Keluarga Besar UI dari kalangan alumnus adalah bahasa Minang saya lebih fasih dari dia, kala ia punya jabatan paling mengerikan dalam sejarah gerakan mahasiswa UI kontemporer: Jenderal Lapangan yang mengatur massa terbesar lautan Jaket Kuning, sampai ia lupa mengganti giginya.

8.      Budi Arie Setiadi: kawan yang selalu sibuk, berbicara seolah semua ucapannya rahasia, Ketua Relawan Pro Jokowi (Projo), sering gunting rambut di Jalan Tanah Abang II dekat kantor saya di Jalan Tanah Abang III.

9.      Selamat Nurdin:  Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD DKI Jakarta, sudah tiga kali terpilih jadi anggota DPRD DKI Jakarta, barangkali hanya Busept atau Subuh yang bisa melarangnya untuk terpilih keempat kalinya.

10.   Budi Septriyono: insinyur profesional yang pantang diganggu kehidupan keinsinyurannya, politik adalah kamus yang sekali pakai, langsung tinggalkan selamanya. 

11.   Fadli Zon: Wakil Ketua DPR RI yang mirip dengan tugasnya sebagai Ketua Komisi Hubungan Luar era Bagus Hendraning: sering ke luar negeri, ketua dari sejumlah jabatan unik, punya beberapa museum, bakat serba aneh dalam mengumpulkan bungkus rokok, keris, sampai benda-benda filatelis yang sayangnya terlalu buruk dalam menulis puisi-puisi (politik) berbau pamflet yang dulu dikritiknya berhalaman-halaman dari penyair-penyair Koran Bintang Timur.

12.   Kun Nurachadijat: seorang penemu pola berpikir dalam metode pelatihan kader-kader Paskibraka dan kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam yang rajinberbekal pulpen dan menulis “nasionalisme relegius” di selembar kertas yang bergambar bola dunia, instruktur yang ditakuti oleh junior-juniornya.

13.   Soe Hok Gie: saya pernah ingin mati muda, seperti puisi yang pernah dikutipnya, letak rumahnya – dulu – berseberangan dengan tempat saya tinggal sejak menikah.

14.   Hariman Siregar: pernah juga terbaca suka membawa beceng, berbenteng di Jalan Lautzche yang dikelilingi ruko-ruko jualan onderdil mesin-mesin mobil, hingga mesin-mesin pompa. Senior yang tak pernah dilupakan oleh yunior-yuniornya.

15.   Bagus Hendraning: diplomat Indonesia yang kini bertugas di Maroko yang banyak dihuni kapal-kapal pesiar, pernah menjadi penyiar Radio ARH Jakarta dan sayapun ikut diwawancarainya.

16.   Faridah Thulhotimah: Piala dalam Pemira SMUI 1995 yang saya berhasil raih sebagai ibu dari dua orang putra (salah satunya gifted) kami, ahli beladiri dan punya copyright riset di BPPT tentang mengubah singkong menjadi plastik.

17.   Yaswin Iben Sina: ia punya 12 orang saudara seibu-sebapak, kakaknya menjadi terkenal sebagai pengamat sepakbola zaman old, aktivis yang tak berhenti bersuara apabila ada yang melenceng setelah apa yang ia dan kawan-kawannya lakukan untuk berhadapan dengan sepatu lars dan senjata, seniman yang berwajah di atas rata-rata.

18.   Indra Kusuma: satu lagi keturunan Minang yang kini menjadi pengacara, berbagi canda dalam banyak kegiatan riset dalam kelompok studi mahasiswa dan aksi jalanan.  

19.   Komaruddin: ia sudah menyelesaikan doktornya, barangkali sebentar lagi menjadi Guru Besar, bekerja di bawah duli panji-panji ilmu kampus Makara.

20.   Rama Pratama: saya tidak tahu, apa ia sudah menyelesaikan doktornya, mengingat istri, kakak istri dan iparnya sudah menjadi doktor dan  tidak tahu bagaimana para doktor dengan latar ilmu berbeda-beda ini berdialog di meja makan.

21.   Zulkieflimanyah: menyelesaikan PhD di luar negeri, ahli pidato, jago mengaji, paham literasi, kini sedang berjibaku sebagai Calon Gubernur NTB.

22.   Nadia Madjid: perempuan besi dalam zamannya ini menjadi Kepala ( Chief) dari Voice of America siaran Bahasa Indonesia, jabatan tertinggi yang pernah diraih oleh Warga Negara Indonesia di lembaga itu,  pembicara yang jenius sebelum era Mata Najwa, tapi tak pandai menyimpan kritik kerasnya di hadapan siapapun demi reputasi sebagai senior dan mentor eksotik.

23.   Reni Budi Lestari: syahdan kini dosen di salah satu kampus di Jawa Timur, sosok senior perempuan yang mengayomi, mudah senyum dan numpang dalam mobil harumnya, tahan berhadapan dengan macan kampus jenis apapun, baik yang jinak atau penuh luka.

24.   Pandji Kian Santang: sepertinya masih menjadi kurator di jalur benda-benda seni internasional atau entah dimana, saya kurang ikuti lagi.

25.   Mustafa Kamal: kini jadi Sekjen DPP Partai Keadilan Sejahtera, sosok Muhammad Natsir ada dalam setiap kupasannya.

26.   Achmad Noerhoeri: dulu di Jakarta Post, Reuters, Bloomberg, International Crisis Grup Sydney Jones, lalu kini menetap di London, Inggris, bekerja sebagai analis di kelompok think tank terkemuka yang bagi seorang profesional adalah langkah juara.

27.   Gatot Priyo Utomo: sukses sebagai perakit piranti-piranti nirkabel bagi bank-bank Indonesia, membuatnya berhenti sebagai profesional dan bergiat dalam tubuh Nahdlatul Ulama, kadang saya tuduh sebagai bohirnya.

 


Others