04 September 2018

 

Oleh

Indra J Piliang
Pangkoops #Sangga@Jokowi

Selama lima hari, saya mengunjungi Pulau Belitung dan Pulau Bangka. Sebagai anggota Tim Quality Assurance (Penjamin Kualitas) Reformasi Birokrasi Nasional RI, saya melibatkan diri bersama Tim Substansi yang berasal dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) RI. Tanpa persiapan untuk berlibur, saya ikut mengunjungi destinasi wisata unggulan Pulau Belitung, yakni Batu Garuda, Pulau Lengkuas dan mercusuar peninggalan Belanda tahun 1882 yang menjadi ikon Belitong. Belum absah ke Belitong, apabila tak mengunjungi pulau yang jadi tempat penangkaran penyu, tempat bermain banyak biawak, hingga kawasan konservasi sejenis kukang itu.

Dengan sadar masih berpakaian kemeja putih sebagai baju kerja, saya bersama tim memeragakan adegan Goyang Dayung ala Joko Widodo dalam gerak berulang. Saya tak tahu apa sebutannya gerakan itu. Sejak kecil, saya terbiasa dengan dayung di sungai, danau dan laut Konon, Goyang Dayung ala Jokowi dalam pembukaan Asian Games 2018 itu viral dan jadi perbincangan hangat. Sejumlah versi bahasa asing juga muncul, termasuk dalam kostum Jokowi menaiki moge. Sebagai bangsa yang memang tak bisa jauh-jauh dari gawai, hampir segala lalu lintas informasi itu tersedia di telapak tangan kita, guna menarik mata. Jokowi terlihat piawai untuk memunculkan kreatifitas yang rileks dengan gaya itu.

Tentu, selama dalam perjalanan, agenda saya begitu padat. Selain berdiskusi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Belitung, Sekda Provinsi Bangka Belitung, kami juga berdialog dan adu analisa data dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Belitung. Begitu juga, kami berkunjung ke kantor Badan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2016. Tentu kami juga berdialog dengan stakeholders lokal, terutama guna mendapatkan data-data lapaangan yang kredibel.

Kami juga berdiskusi dengan Gubernur, Wakil Gubernur, dan Kepala SKPD Provinsi Bangka Belitung. Pemandu kami adalah Kepala Perwakilan (Kaper) BPKP Provinsi Bangka Belitung yang baru dilantik. Selain saya, juga hadir Ketua Tim QA RBN RI yang sekaligus Kepala BPKP RI, Dr Ardan Adiperdana, mantan Kepala Badan Pusat Statistik Dr Suryamin, dan Dr Robi Nurhadi. Kaper BPKP Babel kebetulan pernah menjadi anggota Tim Susbtansi Tim QA RBN RI yang berhasil menjabat melalui lelang terbuka. Wakil Gubernur Babel saya kenal ketika beliau masih menjabat di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pada saat menyusun roadmap 25 tahun pemerintahan daerah sekitar awal tahun 2000. Kebetulan, saya menjadi narasumber tetap di Kemendagri untuk bidang pemerintahan daerah.

Sementara Gubernur Babel saya kenal ketika masih menjadi Bupati Bangka Tengah. Erzaldi Rosman Djohan adalah tokoh potensial Partai Golkar, namun tak mendapatkan rekomendasi sebagai calon gubernur yang diusung. Setelah terpilih dan sebelum dilantik, beliau bertemu dengan saya di salah satu gedung dekat Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Waktu itu, beliau presentasi tentang kendala-kendala yang dihadapi dalam rencana pengembangan KEK baru di Pulau Bangka.

Apa yang kami “selidiki” di Babel, sebagai laporan kepada Wakil Presiden RI yang seterusnya disampaikan kepada Presiden RI itu?

Terdapat dua sektor, yakni lada dan pariwisata. Di dua sektor itu kudu diterapkan delapan area perubahan reformasi birokrasi: manajemen perubahan, penataan dan penguatan organisasi, penataan peraturan perundang-undangan, penataan sumberdaya manusia, penataan tata laksana, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Roda api dan rantai gerigi ke delapan area perubahan itu kami periksa secara teliti.

Biarlah soal lada dan pariwisata ini saya tulis nanti, termasuk upaya menimbun dan memoratorium pasir timah yang banyak ditambang secara illegal, Lalu warga berbondong-bondong melajukan Bangka dan Belitung bersama lebih kurang 470 pulau-pulau besar dan kecil dengan mengandalkan lada dan pariwisata. Dari 470 pulau itu, baru 50 pulau yang berpenghuni. Dari atas pesawat, terlihat sejumlah pulau-pulau kecil berpasir putih, seperti area pengambilan adegan film Pirates of the Caribbean, Yang penting, apabila kesadaran kuantum dan evolusioner itu muncul di kalangan penduduk: lada dan pariwisata Babel bakalan lebih mengkilap, mahal dan prestisius dibandingkan dengan pasir timah dan seluruh produk turunannya.

Yang namanya tugas lapangan, tentu saya kehilangan banyak informasi per jam menyangkut perolehan medali Asian Games. Sinyal gawai saya lenyap. Yang saya tahu – dan tentu tercengang – adalah prestasi atlit Indonesia yang mampu bertengger di urutan keempat dan berhasil mendulang medali terbanyak dibanding seluruh kepesertaan Indonesia dalam Asian Games sepanjang masa. Ada keriuhan luar biasa di arena Asian Games. Gelombang ledakan energi yang memunculkan rasa bangga di mana-mana. Ledakan yang bahkan lebih hebat dari aliran lava dan magma gunung-gunung yang meletus di Indonesia akhir-akhir ini. Terjadi gempa suka cita dan gempita euforia atas prestasi atlit-atlit Indonesia. Bahkan, tak seorangpun yang mampu mempredisi dengan presisi raihan ini. Dukun, binatang, robot dan alat pelacak kalah-menang di panggung olahraga langsung menjadi pengangguran, dengan melihat hasil-hasil ini.

Selama di Jakarta, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar televisi, guna menyimak pertandingan yang sedang berlangsung. Saya perhatikan detil dari semangat mereka yang bertanding, pelatih, jurnalis, dan penonton yang memenuhi arena. Terasa sekali seluruh ruang dan seluruh udara diberi pengaruh energi yang terpercik dari arena pertandingan. Energi yang betul-betul putih, sehat dan positif. Ya, persis seperti membaca komik-komik Jepang atau menonton kartun-kartun Korea yang berisi adegan pahlawan-pahlawan super semacam jurus kamehameha Son-Go Ku yang mengeluarkan energi menggumpal bagai bom atom.

Yang saya rasakan: terlalu cepat menjadi tua. Hampir tak ada yang cacat, baik dalam setiap kemenangan ataupun kekalahan yang dihadirkan para atlet ini, setelah apapun raihan angkanya. Ketika Timnas Indonesia dikalahkan oleh Uni Emirat Arab dalam drama adu penalti, saya bersama para penonton merasa sangat puas. Dua gol selama pertandingan yang disarangkan anak-anak Indonesia diperoleh melalui skema permainan yang indah. Sementara, Uni Emirat Arab menyarangkan dua gol melalui penalti. Ya, sama-sama dua gol, tapi berbeda nilai. Indonesia kalah dalam babak penalti setelah waktu normal berakhir. Kalah terhormat. Penuh bangga dan sorak sorai.

Pun ucapan-ucapan yang dilontarkan para atlit, kala masih terengah seusai menjalankan pertandingan yang berat. Mereka seolah sudah belajar beraksara dengan baik. Frase yang dipakai begitu memukau, seolah mereka bukanlah atlit pofesional, melainkan figur profesional yang sudah melewati sejumlah pelatihan public speaking.

Kalah? Mereka berucap tanpa tertekan, selain ikhtiar memperbaiki lagi penampilan dalam pertandingan-pertandingan mendatang. Mereka memuji lawan lebih siap, lebih taktis dan lebih tangguh. Hampir tak ada yang menyebut kata “lawan beruntung” atau menyalahkan “lapangan”, pun ditambah wasit. Mereka paham, seluruh mata memandang detil permainan, bahkan dalam gerak lambat atau tayangan ulang. Tak guna berkelit atau berkeluh kesah. Latihan yang ulet, makanan yang terjaga dan istirahat yang cukup menjadi pangkal rasio dari kekalahan dan kemenangan yang mereka dapat. Individu-individu yang soliter. Utuh. Muka mereka juga bisa memerah, tersipu, manakala disebutkan penonton-penonton lawan jenis begitu setia bersorak dan menunggu. Mereka berterima kasih, tentu. Begitu juga dukungan keluarga, bagi mereka sangat penting mengobarkan semangat.

Menang? Tak terbersit sikap betapa prestasi medali yang mereka capai sebagai buah kerja pribadi. Tak ada nada pongah. Mereka dengan sigap meloncat kepada pelatih di pinggir lapangan, membopong, menyium tangan, bahkan memeluk erat, lalu mencari bendera merah putih sebagai sikap nasionalitas, berlari atas nama syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kadang sambil menangis haru. Tak jarang mereka menyiumi tanah, bersujud, sebagai bentuk tunduh dalam lambungan iman. Sikap sebagai makhluk transendental yang tetap percaya kepada “kekuatan langit”. Begitu juga raihan bonus yang didapat, segera saja terbagi ke beragam jenis pengeluaran: terutama – dan terkhusus – bagi kalangan yang sedang dilanda musibah. Korban gempa Lombok paling sering disebut sebagai area berbagi.

Para ksatria yang berhati suci. Para srikandi yang berjiwa sutra. Mereka hadir di saat yang tepat, tatkala hoak menyeruak menghitamkan siapapun yang terkena. Mereka menunjukkan bangsa ini memiliki keberanian, ketekunan, kerja keras, disiplin, orientasi masa depan dan sadar tentang kandungan makanan bergizi. Jajaran Generasi Y dan Generasi Z yang berparas rupawan, nyaman dengan balutan hijab di tubuh walau bermandi keringat. Mereka bersama, namun bukan untuk berkabung, namun bergabung menyatukan asa dan kekuatan. Mereka berbeda, dari legam keriting, putih pirang, atau hitam sawo matang, sebagai entitas etnografis yang multibudaya dan multigenetik. Tak ada rasa sungkan untuk berpelukan dalam bau kucuran peluh beraneka roma. Hampir tak terdengar selentingan yang dibawa bisikan angin menyangkut selera daging halal atau haram yang disantap regu, kelompok, grup, kesebelasan atau pasangan masing-masing.

Bendera merah putih telah menyatukan kesucian hati dan keberanian raga atlit-atlit ini. Merekalah yang nanti membawa energi bagi kenaikan bangsa Indonesia menapak puncak piramida negara maju, sehat dan makmur. Generasi yang sering dikenal sebagai bagian dari siklus sejarah antar bangsa sekali dalam limaratus-tahun. Waktu yang sekejap mata bakal terlewati, sekitar dua sampai tiga dekade lagi, sebanding waktu yang dipakai dalam masa-masa sekolah: sejak taman kanak-kanak sampai pendidikan pasca-sarjana. Angka keramat 2045, yakni perayaan seabad Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, adalah etape puncak dari anugerah bonus demografi itu. Indonesia beruntung memiliki visi negara kesejahteraan 2045.

Sejumlah lembaga internasional membuat proyeksi bahwa pada seratus tahun usia Negara Kesatuan Republik Indonesia itulah kita bangkit. Pricewaterhouse Coopers, misalnya, berdasarkan analisa ekonometri yang rumit, menempatkan Indonesia dalam rangking empat negara paling kuat secara ekonomi. Ya, persia urutan negara-negara Asia yang memperoleh medali dalam ajang Asian Games: empat. Kalau mau sedikit dispin, sama dengan nomor urut Partai Golkar dalam Pemilu 2019. Indonesia hanya berada di bawah China, India dan Amerika Serikat. China dan Amerika Serikat sampai kini masih berada di atas kita sebagai kekuatan ekonomi termegah. Jepang dan Korea Selatan berhasil kita lewati, pun negara-negara petro dollar di Timur Tengah.

Saya tentu berharap, juga berusaha, agar generasi berusia hampir separo abad seperti angkatan aktivis mahasiswa era 90an tak perlu lagi (merasa) berada di depan. Generasi kami perlu mengorbankan pilihan untuk hinggap di puncak-puncak kepemimpinan formal bidang politik, pemerintahan, ekonomi, ataupun talenta. Cukuplah, banyak generasi saya yang menematkan pendidikan jenjang magister dan doktoral, bahkan juga sudah beberapa yang meraih gelar guru besar. Kami harus segera memutuskan kapan berhenti berlari di jalur cepat, lalu segera beralih melihat arus generasi baru meramaikan jalanan. Angkatan aktivis 1966 sudah mengambil “terlalu banyak” dari jatah angkatan-angkatan di atas kami, sebut saja angkatan aktivis 1974 dan 1980-an. Tak apa, kami menjadi bagian dari generasi yang memapah, bukan memamah. Generasi yang membenihkan, bukan yang memanen.

Begitukah?

Jakarta, 04 September 2018


Others