23 Januari 2019

Tatkala Induak Baniah Bertitah

Oleh

 

Indra J Piliang

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Sejak pulang dari Sukabumi hari Sabtu, 19 Januari 2019, mengikuti kunjungan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama jajaran pengurus inti, saya jatuh sakit. Akhirnya memilih bed rest. Perjalanan yang luar biasa, bukan saja bernapak tilas ke bumi Sukabumi, tetapi ke makam seorang perintis kemerdekaan yang merupakan kakek dari Airlangga. Saya memotret sejumlah foto dan dokumen di rumah tua milik keluarga, ketika acara politik dilakukan. Saya baru tahu, Airlangga ternyata saudara sepupu dengan Laksamana Soekardi. Kakek Airlangga dan Laksamana sama, hanya neneknya yang berbeda.

Kemaren, saya mendapatkan panggilan telepon tak terjawab dari Uncu Muhardi Koto, kawan saya di Pariaman. Saya cek pesannya: “Perumahan Oman, Lansano.” Dalam potongan video yang dikirimkan itu, sekelompok ibu-ibu yang disertai sedikit bapak, sedang mengucapkan deklarasi.

“Kami dari Kelompok Tani Sejahtera, pendukung Jokowi – Ma’ruf, maju menjadi Presiden Republik Indonesia, untuk meneruskan pembangunan di Ranah Minang. Hidup Jokowi! Nomor Satu,” begitu bunyi deklarasi itu. Terdapat 12 orang perempuan dan 4 orang laki-laki dalam acara itu. Hanya dua orang yang mengenakan kaos Jokowi-Maruf. Dari disain kaos itu, saya tahu berasal dari kiriman saya beberapa bulan lalu, dari “jatah” yang diberikan oleh pengurus Sang Gerilyawan Jokowi kepada saya.

Saya terkesiap. Badan yang masih terasa lemas, akibat masuk angin dan muntah-muntah, langsung terasa sembuh. Saya seperti mendapatkan energi luar biasa. Bukan apa-apa, saya kenal seluruh orang yang deklarasi itu. Merekalah yang setiap hari ada di kampung. Mereka menggembalakan ternak, bertani, berkebun, berkolam, sampai melakukan aktivitas sosial semacam baralek (kenduri) dan kegiatan keagamaan yang berjalan rutin. Setiap kali pulang kampung, saya bertemu dan bertegur sapa dengan mereka.

Yang saya juga kaget, kegiatan “deklarasi” itu dilakukan di Balerong (Balairung) Kaum Piliang di dusun Kampung Tangah, Lansano, Kenagarian Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Balerong itu paling megah di sentero nagari, karena dibangun pihak Kerajaan Oman pascagempa 2009. Praktis, hanya rumah peninggalan kakek saya yang masih utuh. Sisanya, sudah diratakan dengan tanah. Kampung kecil itu dikenal sebagai kampung Lima Anduang (Lima Nenek).

(Pada waktu menulis bagian ini, saya menerima telepon dari Rustam, adik kelas saya di SMA 2 Pariaman. Rustam memberikan info akan mengadakan deklarasi bersama dengan kaum tani, nelayan, serta alim ulama besok. Namun tanggal 8 Februari 2019 nanti, ia akan mengadakan acara yang lebih besar dan berharap saya hadir.)

Tanah yang kini dihuni puluhan rumah bagus itu, dulu memang memiliki lima buah rumah. Kami memanggilnya Uwai atau Uwo. Ada Uwai Timah, Uwai Ndah (Rendah), Uwai Itam, Uwai Nggi (Tinggi) dan Uwo Zainab (nenekku). Uwai Ndah letak rumahnya paling tinggi, anak-anaknya juga tinggi-tinggi dan putih-putih. Uwai Nggi rumahnya paling rendah, dekat dengan bibir sungai. Rumah Uwo Zainab dekat Surau Lambah Aur, sebagai penjaga surau. Uwai Itam lebih tertutup, anaknya hitam-hitam, sebagian besar menjadi pegawai negeri sipil, polisi dan jaksa. Baiklah, kisah keluarga ini bakal saya tulis lain hari.

Dari keluarga besar itulah, muncul sejumlah politisi. Satu orang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kota Padang dari Partai Gerindra. Satu lagi, muncul sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia selama tiga periode, Haji Refrizal. Dalam ukuran matrilineal, sekalipun Haji Refrizal bersuku Sikumbang, tetapi ayahnya adalah Rang Piliang. Haji Refrizal adalah mamak (paman) kontan (kandung) saya.

Pada waktu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), kakek buyut saya bernama Tuanku Muhammad Sulaeman adalah Wali Nagari Sikucur. Di rumah kamilah terjadi perjanjian damai antara pasukan dalam (PRRI) dengan pasukan luar (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pimpinan Jenderal Ahmad Yani). Sisa-sisa tentara PRRI dibolehkan pulang dari arah kaki Gunung Tigo, dekat Gunung Tandikat dan Gunung Singgalang. Dalam keadaan sakit, luka, sampai sehat, mereka diperbolehkan untuk “kembali ke pangkuan ibu pertiwi”. Di rumah kami digelar perjamuan (makan bajamba) guna merayakan hari-hari persatuan itu.

Kelompok ibu-ibu yang melakukan “deklarasi” itu, sedikit saja yang merupakan bagian dari Limo Anduang itu. Sebagian besar adalah mereka yang memiliki sawah dan taratak di sekitar dusun itu. Tetapi, merekalah yang sebetulnya “Alek Nan Bapangka, Karajo Nan Bapokok”.

Jika lebih ditelusuri lagi, kami sebetulnya datang dari hilir yakni naik dari arah Tiku, Kabupaten Agam, dan dari hanyut dari arah mudik yakni pegunungan Bukit Bio-Bio. Kakek buyut kami membuka ladang di arah Gunuang Kareh (Gunung Keras). Di Gunung itulah kakek dan nenek kami tinggal terlebih dahulu, dengan dinding perumahan yang memiliki lubang Japang (Lubang Jepang, sebagai tempat perlindungan). Waktu kecil, saya masih menemukan bekas mortir zaman Jepang di kolam yang banyak lintahnya pada area ladang itu.

Sawah?

Tentu kami memiliki, tetapi terletak di dekat ladang itu. Sementara sawah-sawah yang dekat dengan sungai, dimiliki oleh keluarga-keluarga yang “deklarasi” tadi. Saya selalu mengatakan kepada adik-adik saya bahwa sekalipun Lansano adalah kampung halaman ibu kami, tetap saja kebaikan hati dari keluarga-keluarga yang sudah terlebih dahulu datang ke pedalaman Padang Pariaman itu yang memberikan lahan kepada kakek-nenek kami.

Kenapa Pedalaman?

Karena sampai tahun 2002, listrik baru masuk. Jembatan gantung baru dibuat pada tahun 2007, sepuluh tahun setelah saya menamatkan studi di Universitas Indonesia. Sebagai anak kampung, saya tentu mengalami kehidupan pedesaan yang hebat. Tidur di surau, mengaji, tilawatil Qur’an (keluarga kami adalah juara Musabaqah Tilawatil Qur’an, akibat menjaga surau tadi), bermain silat, mencari ikan di sungai, dan segala macam kehidupan kampung lainnya. Kadang, saya menangis di malam hari, rindu kepada kehidupan kampung. Semua keahlian kampung yang saya punya, dari mencangkul, menanam, memanjat, hingga beternak, seakan tak berguna di Kota Jakarta. Saya kenal semua tumbuh-tumbuhan hutan, sering makan pulang sekolah dengan naik ke dahan pohon.

Sungguh, “sejak dunia terkembang”, sama sekali tidak ada yang namanya politik masuk ke dusun kami. Paling banter yang menjadi panitia pemilihan umum adalah ayah saya yang menjadi pegawai negeri, bersama dengan guru dan pegawai negeri dari Lima Anduang. Ayah memang pernah menjadi Sekretaris Partai Masyumi, tetapi sejak Pemilihan Umum 1971, setahun sebelum saya lahir, sudah pindah haluan menjadi pemilih Golkar.

“Karena ayah melihat ada perubahan di masa depan. Golkar punya program bagus kala itu,” kata ayah.

Namun, ayah juga yang menentang pihak Komando Rayon Militer, ketika diminta mengubah hasil pemilu. Adegan sepucuk pistol yang tergeletak di meja ayah itu, seakan terus terpatri dalam benak saya. Ayah adalah fungsionaris Golkar, tetapi ia adalah sosok yang objektif dan berani menentang siapapun, demi melindungi suara pemilih. Kebetulan, kampung kami memang menjadi basis Partai Persatuan Pembangunan kala itu. Saya tidak tahu, apa karena itu juga, hasil pembangunan hampir tak terasa sampai saya bertahun-tahun kudu selesai kuliah di Universitas Indonesia. Hubungan saya dengan Harry Azhar Azis sangat membantu proses pembangunan apapun di Padang Pariaman. Apapun yang saya minta, baik lewat Wali Nagari, Pak Camat, hingga Bupati, langsung dipenuhi oleh Bang Harry. Harry Azhar Azis beribu Chaniago dan berayah Piliang.

Apa yang disuarakan oleh ibu-ibu itu adalah murni aspirasi mereka. Saya memang ingat, usai Debat Pertama Pemilihan Umum Presiden ini, penghulu kaum kami, Datuk Lenggang Basa, langsung menelepon saya.

“Jokowi hebat!” katanya.

“Kalau begitu, menangkan Jokowi di kampung kita. Sudah dua kali saya mendukung Jokowi. Bagaimana bisa saya pulang ke kampung, bila Jokowi kalah lagi?” kata saya.

Memang, tahun 2014, saya berdua Iwan Piliang pulang ke Pariaman. Kami membuat acara deklarasi di bekas terminal Kota Pariaman. Kami pun siaran di Radio Pariaman, lalu menghadapi caci-maki para penelepon. Sesekalinya saya kerja politik bersama Iwan Piliang, tandem dalam kondisi terbaik, tetap tak bisa mengalahkan berbagai isu negatif yang berkembang.

Kini, ibu-ibu yang dikenal sebagai Induak Baniah (Induk Benih) itu sudah bersuara. Mereka tahu, Jokowi sudah membangun Sumatera Barat, datang berkali-kali, menginap berlama-lama, sampai seluruh dusun terang oleh cahaya listrik. Jalan-jalan sedikit sekali yang berlubang. Apapun yang diminta, baik lewat Jokowi ataupun Jusuf Kalla, langsung diberikan. Jembatan putus, dalam seminggu sudah bisa dilewati lagi. Jumlah kendaraan bertambah banyak.

Saya tak pernah berdialog dengan ibu-ibu itu tentang pilihan politik. Tapi kalau mereka mengeluh tentang jembatan, saya berupaya dengan jejaring yang saya punya untuk mewujudkan. Terakhir, saya mendaki ke Gunung Kareh, melihat dari dekat lembah yang dialiri air sungai kecil yang dimiliki oleh tiga orang.

“Yaya, kami serahkan tanah ulayat kami, jika Yaya bisa membangun bendungan di sini. Silakan bikin listrik di sini. Silakan masukan ikan. Silakan gunakan sebagai tempat bermain. Kalau Yaya bisa wujudkan sebelum saya mati, alangkah berbahagianya saya,” begitu kata si empunya tanah kepada saya. Sosok yang sebaya dengan almarhum ayah saya yang kini sakit-sakitan.

Saya tentu tak akan pulang dengan menyebarkan kaos. Saya lebih baik nanti mengumpulkan sejumlah insinyur untuk membuat rancangan bendungan itu. Saya pernah menyampaikan kepada Uda Andrinof Chaniago. Barangkali, itulah kado pembangunan yang ingin saya wujudkan dalam lima tahun ke depan, jika di dusun kami itu Jokowi-Maruf menang. Tak peduli Mamanda Refrizal sudah datang ke ibu saya. Toh keluarga besar kami juga sudah ikut menyumbangkan suara untuk beliau. Tak peduli juga saya kudu berkelahi tiap hari dalam Whatsapp Grup Cucu Gaek Ompoang dengan kakak kandung dan saudara-saudara sepupu kami.

Mengapa? Saya pernah makan beras dari Induak Baniah ibu-ibu yang deklarasi itu. Beras itu telah menjadi darah dan daging dalam tubuh saya...

Jakarta, 23 Januari 2019


Others