16 Februari 2019

Studi Klub Sejarah (SKS) UI

Oleh

Indra J Piliang

 

Setelah hampir dari dua dasawarsa, sejak pendiriannya pada tanggal 15 Agustus 1975, SKS masih belum menunjukkan perkembangan berarti bagi anggota-anggota dan alumni-alumninya. Padahal organisasi ini mempunyai potensi paling besar di Fakultas Sastra UI, khususnya, dan di UI, umumnya, untuk menghasilkan mahasiswa-mahasiswa idealis, berwawasan, mempunyai komitmen kebangsaan, kerakyatan dan keilmuan. Idealnya, SKS dijadikan sebagai laboratorium ilmu sejarah dan basis transformasi intelektual anggota-anggotanya. Sebab di samping alam, maka sejarah adalah guru kehidupan yang paling baik, netral, demokratis dan tidak punya pretensi apapun, kecuali membuka diri seluas-luasnya untuk kemajuan kemanusiaan, kebudayaan dan peradaban. Atau sebaliknya, tergantung pada pribadi yang menggunakannya.

Kelahiran SKS justru mendahului maraknya kelompok-kelompok studi di era 1980-an. Penamaannya merupakan suatu replika sejarah organisasi-organisasi sosial, politik atau budaya di Hindia Belanda pada awal abad 20, misalnya Indonesische Studieclub di Surabaya pada kuartal keempat tahun 1924 yang didirikan oleh dr Soetomo; Studieclub Indonesia di Batavia, atau Algemeene Studieclub di Bandung pada awal tahun 1926, serta kelompok-kelompok studi lainnya di Solo dan Yogyakarta. Ide dasar pendirian organisasi-organisasi tersebut dikenal radikal pada masa itu, yaitu persatuan, yang menjadi benih-benih pemikiran kearah kemerdekaan.

 

Integrasi

Pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benak saya adalah mengapa terjadi perpecahan di kalangan anggota SKS? Mengapa kepentingan kelompok, golongan, ideologi atau paham lebih diprioritaskan, dibandingkan dengan tujuan organisasi? Mengapa mahasiswa jurusan Sejarah lebih aktif di organisasi non SKS, baik di UI maupun di luar UI?

Asumsi saya, sebagai kelompok studi, seharusnya SKS terlepas dari sikap-sikap non intelektual: apriori, represi, agitasi, emosi dan sikap-sikap anti dialog ataupun ketidak-demokratisan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut seluruh anggota.

Sebaliknya, SKS seharusnya dijadikan sebagai tempat yang kondusif bagi pergulatan pemikiran, perdebatan, dialog tanpa apriori, dan sikap-sikap konstruktif bagi pengembangan studi sejarah. Semuanya menjadi embrio demokrasi, kondisi ilmiah dan dedikasi keilmuan.

Berbeda dengan organisasi sosial politik lainnya ataupun organisasi-organisasi kemahasiswaan di UI – yang kehadirannya seringkali tidak terlepas dari kepentingan kekuasaan/pemerintah atau golongan --, maka SKS justru lahir dari kebutuhan mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah FSUI. SKS digerakkan oleh visi keilmuan dan membawa misi kemanusiaan, serta lebih spesifik lagi mengemban tugas kerakyatan.

Interpretasi demikian dimungkinkan mengingat kondisi sosial politik di tahun 1975, setelah Peristiwa Malari 1974 yang “heroik”. Walaupun belum ada penelitian lebih lanjut terhadap peristiwa tersebut, namun ada indikasi kuat kearah keterlibatan mahasiswa jurusan Sejarah FSUI, sebagaimana keterlibatan Soe Hok Gie di tahun 1966, khususnya, dan era 1960an, umumnya. Kontinuitas keterlibatan mahasiswa jurusan Sejarah FSUI seperti kita lihat dari bermunculannya aktifis-aktifis mahasiswa jurusan Sejarah FSUI sebagai pucuk pimpinan organisasi kemahasiswaan di UI sampai sekarang.

Untuk itu, integrasi merupakan prioritas utama yang harus dibenahi dalam tubuh SKS, seperti halnya persatuan bagi kelompok-kelompok studi Indonesia di era 1920-an. Integrasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam tubuh SKS, baik itu integrasi tujuan, integrasi gagasan, integrasi keilmuan, maupun integrasi tindakan dan pemikiran.

Integrasi bukan berarti mengarahkan anggota SKS pada satu prinsip tertentu dan meninggalkan atau mengganti paham pribadi yang pernah dianutnya. Integrasi justru bertitik tolak dari perbedaan pemikiran dan beragam prinsip hidup. Pluralitas dan dinamika merupakan bagian integral dari integrasi. Dengan demikian, integrasi bukanlah suatu monotoni.

Tak diragukan lagi bahwa mahasiswa sejarah terbagi-bagi dalam berbagai kelompok yang dilatar-belakangi oleh banyak faktor, antara lain kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial tempat tinggal, asal pendidikan di sekolah menengah, dan lain-lainnya. Ringkasnya, pelbagai perbedaan yang dialami oleh mahasiswa jurusan Sejarah FSUI dilatar-belakangi oleh perbedaan sejarah hidup masing-masing individu. Masalahnya, kita mengetahui perbedaan tersebut, namun tidak mengakuinya secara dewasa.

Dengan adanya integrasi, perbedaan-perbedaan dalam pemikiran dan lain-lainnya, diberi peluang untuk tumbuh sehat dan diakui keberadaannya. Pada akhirnya, integrasi berusaha mencapai sintesa dari perbedaan-perbedaan tersebut. Sintesa berpijak dan berangkat dari tesa dan antitesa, aksi dan reaksi, tataran filosofis dan tataran praktis, atau kelompok studi dan parlemen jalanan.

Kemantapan kita dalam memegang suatu pemahaman atau prinsip hidup, akan makin kuat jika kita berhasil meyakinkannya kepada orang lain secara logis dan ilmiah, tanpa unsur represif dan intimidasi. Atau sebaliknya, kita akan mencari pemahaman yang lebih akurat dan mendalam, jika keyakinan kita digoncangkan oleh counter pemikiran orang lain. Dialog tanpa apriori justru makin memacu diri kita untuk terbuka, bersikap demokratis, berdebat, membaca, menulis atau sekadar melontarkan polemik yang menuntut tanggungjawab dan keseriusan, dengan landasan keilmuan.

Jika anda pengagum Natsir, Tan Malaka, Soekarno, Hitler, Karl Marx atau siapapun, SKS adalah wadah yang paling tepat untuk mengemukakan konsep-konsep pemikiran, idealisme, kepribadian, pengaruh, dan peranan masing-masingnya dalam sejarah. SKS butuh Natsir Muda, Tan Malaka Yunior, Soekarno Duplikasi, atau Karl Marx Revisi. Sudah saatnya mereka “bangkit dari kuburan sejarah” untuk memberikan penyegaran pemikiran dalam menganalisa permasalahan-permasalahan sekarang.

 

Integritas

Berbeda dengan negara-negara maju, seperti di Jepang atau Amerika Serikat, maka di negeri sendiri (ilmu) sejarah masih dipandang sebelah mata. Pembangunan – yang saya kira sudah menjadi “ideologi nasional” – menempatkan studi sejarah pada tangga paling bawah dari ilmu-ilmu yang harus dikembangkan dan diberi prioritas. Sebagai ilmu humaniora dan sosial, pendidikan sejarah lebih diarahkan pada proses pendidikan politik rakyat, bahkan media paling ampuh untuk menumbuhkan kecintaan kepada penguasa atau sebagai media indoktrinasi ideologi.

Dan lagi, secara naif dapat didefenisikan bahwa sejarah paradoksal dengan pembangunan, bagi orang-orang yang tidak mengerti sejarah. Penggusuran dan pembongkaran “bangunan-bangunan historis” dalam berbagai dimensi, adalah akibat samping pembangunan.

Mengapa hal ini terjadi? Mengapa tidak ada semacam protes keilmuan?

Sudah terlalu sering kita menyalahkan sistem atau mencari “kambing hitam” atas suatu permasalahan. Padahal, di sisi lain kita sibuk dengan diri sendiri tanpa pernah mencari kesalahan di dalam hati nurani. Kita tidak pernah menyalahkan diri sendiri, dan berbuat untuk memperbaiki.

Demikian juga (ilmu) sejarah. Penghargaan yang tinggi atas sejarah, harus dimulai dari diri sendiri, dan secara perlahan menularkannya pada orang terdekat, masyarakat dan pemerintah. Untuk itu dibutuhkan mahasiswa dan sarjana sejarah yang mempunyai integritas, dalam artian menguasai berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah: TEORI – METODOLOGI – ANALISA – INTERPRETASI dan KAPABILITAS untuk memahami fenomena sekarang melalui akar permasalahannya. Kita menyeret masa sekarang ke masa depan, lewat potret-potret masa lampau.

SKS merupakan wahana paling tepat untuk memahami sejarah, mengembangkan dan memajukannya. Apapun tujuan hidup anggota-anggota SKS, saat ini sejarah merupakan realitas hidupnya. Ibarat sebuah bangunan, sejarah adalah batu pertama pada dasar bangunan (fundamen). Anda menguasai sejarah, maka anda secara otomatis akan menguasai persoalan-persoalan kehidupan, kemanusiaan, kebudayaan, peradaban dan – secara implisit – lebih siap dari manusia lain yang tidak mengenal sejarah. Sejarah, tidak hanya terbatas sebagai ilmu, tapi juga guru besar tentang kehidupan. Historia vitae magistra!

Apalagi di tingkat FSUI, mahasiswa sejarah dianggap paling potensial, dinamis, kreatif, pengekspor aktifis dan kaum idealis, baik di intra maupun di ekstra kampus. Dengan demikian, saya asumsikan bahwa perubahan di SKS berarti perubahan di FSUI, UI dan dunia kemahasiswaan pada umumnya, mengingat legitimasi peran mahasiswa UI di tingkat nasional.

Untuk itu diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif tentang sejarah. Integritas mahasiswa sejarah akan makin diakui, jika kita menguasai ilmu sejarah dan kompleksitas permasalahannya secara baik. Dan sebagai realitas hidup, sejarah adalah profesi dan spesialisasi kita. Orientasi kita haruslah diarahkan bagi perkembangan dan kemajuan sejarah.

 

Intelektualitas

Unsur yang sangat dominan dalam sejarah adalah intelektualitas. Secara empiris sudah terbukti akan banyaknya publikasi tentang sejarah dalam berbagai bidang kehidupan, dan pemimpin-pemimpin besar dunia yang lahir setelah memahami sejarah dengan baik. Mereka belajar sejarah untuk mewarnai sejarah, terlepas dari sisi apa yang ditonjolkan. Hitler memanfaatkan sejarah bangsa Arya untuk memobilisir rakyatnya. Begitupun peperangan di berbagai belahan dunia, sangat berhubungan dengan akar sejarah: Palestina, Bosnia Herzegovina, dan lain-lainnya. Tentu saja hal ini berbeda dengan pendapat Thomas Carlyle bahwa sejarah adalah sejarahnya orang-orang besar atau genius.

Sebagai a few selected people, mahasiswa menempati posisi strategis. Perjalanan bangsa ini menunjukkan bahwa setiap perubahan yang mendasar, revolusioner atau fenomenal, mahasiswa turut memberikan andilnya – besar atau kecil – dan mencatatkan diri dengan tinta emas. Angkatan 08, 28, 45, 66 atau 78, adalah fase-fase yang melibatkan mahasiswa sebagai agent of change. Kelebihan mahasiswa adalah kemampuan intelektual dan semangat muda yang murni untuk memunculkan ide-ide radikal dan militan. Logika bersentuhan dengan emosi yang dimanifestasikan dalam aksi-aksi protes, korektif atau gerakan tutup mulut.

Ibarat syair dan musik, maka gabungan antara keduanya memunculkan nuansa-nuansa keindahan dan keharmonisan.

Begitu pula halnya dengan SKS, sebagai kelompok studi mahasiswa dalam lingkungan universitas. Sudah sewajarnya jika SKS ditempatkan sebagai wadah pergumulan ide, gagasan atau pemikiran guna mengasah dan mempertajam kemampuan intelektual anggotanya. Adalah ironis jika SKS dijadikan sebagai ajang pertarungan yang didominasi oleh unsur-unsur non intelektual atau non sejarah. Sebagai kelompok studi, idealnya SKS adalah wilayah netral dan steril dari kepentingan kelompok, primordialisme, ideologi, paham politik atau intrik-intrik disintegratif. SKS adalah wahana pergulatan pemikiran tentang ilmu pengetahuan, terutama sejarah.

Saya kira,  tujuan pendirian SKS adalah untuk menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang kritis, berwawasan keilmuan, berdaya nalar, menjadikan sejarah sebagai hobby, serta menggunakan logikanya untuk berpikir. Diluar tujuan tersebut, maka SKS juga sarana untuk membina tali persaudaraan, persahabatan, kekeluargaan, perdamaian dan kemanusiaan dalam arti luas. Tujuan yang paradoks dengan hal-hal di atas, justru telah menghilangkan atau mengkhianati esensi SKS sebagai kelompok studi.

Dalam pada itu, bukan berarti SKS semata-mata merupakan perkumpulan orang-orang (sok) intelek yang hidup di menara gading, dengan buku sebagai sarapan, diskusi sebagai minuman, debat sebagai hiburan, atau meneliti sebagai pengisi waktu istirahat. SKS juga merupakan bagian dari kehidupan  kemahasiswaan (student life) yang tidak menutup diri dari aktifitas lain: naik gunung, main musik, parade puisi, aksi demonstrasi, rekreasi, pacaran, olahraga, dan aktivitas lainnya. Aktivitas tersebut adalah kebutuhan mahasiswa yang manusiawi, asal tetap dijaga benang merahnya sebagai kelompok studi.

 

Program Kerja          

Secara teoritis, mungkin “konsep” di atas terlalu ideal atau malah utopis. Namun, satu prinsip yang harus diingat adalah semua kemudahan atau kemajuan yang kita nikmati sekarang, justru berasal dari pemikiran, eksperimen, atau lamunan utopis para penemunya. Einstein dianggap gila dengan teori relativitasnya. Soekarno hidup dari penjara ke penjara. Tan Malaka hidup dalam kemiskinan dan belas kasihan, begitu juga Karl Marx, Ahmad Wahib, H Agus Salim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya.

Sejarah orang-orang besar adalah sejarah yang diramu dengan idealisme, konflik-konflik, dan penderitaan. Maut sangat dekat dengan hidup mereka. Socrates mati untuk prinsip-prinsipnya, dengan meninggalkan utang. Nietszche menemukan pemikiran terbaik ketika terbaring sakit. Pemikiran tentang hakikat kemiskinan atau penderitaan, hanya akan menjadi slogan belaka jika pemikir atau penulisnya tidak pernah hidup miskin atau menderita.

Dari pengalaman empiris tersebut, ada satu kesimpulan yang dapat kita tarik bahwa jangan takut berpikiran utopis, dan kembangkanlah pemikiran melalui kebenaran objektif. Bukan atas tujuan-tujuan tertentu, misalnya eksploitasi kemiskinan, yaitu meneliti dan menulis tentang kemiskinan untuk imbalan material dan kekuasaan.

Demikianlah. Sebagai implementasi dari tiga dasar pemikiran di atas, maka program kerja yang akan dilaksanakan minimal mengandung satu unsur (integrasi atau integritas atau intelektualitas), atau sekaligus ketiganya.

Depok, 10 Juni 1994

i) Naskah ini adalah materi kampanye Indra J Piliang sebagai Calon Ketua Umum Studi Klub Sejarah (SKS) UI 1994-1995.

ii) Dalam pemilihan yang dihadiri oleh 56 orang pemilih, Indra (Angkatan 91) menang dengan 27 jumlah suara. Sementara lawannya, Raden Taufik Kurniawan (Angkatan 90), meraih 26 suara. Satu suara abstain, karena permisi ke kamar mandi dan tidak balik-balik. Pemilihan ini tercatat sebagai pertarungan paling sengit kelompok merah, hijau dan indep di dalam tubuh mahasiswa Sejarah UI.

iii) Naskah ini diketik ulang dari tulisan tangan Indra, tanpa ada perubahan apapun, termasuk langgam bahasa yang digunakan.

iv) Naskah ini dilengkapi dengan sejumlah program kerja yang disusun sistematis.  

v) Tahun berikutnya, Indra terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI) periode 1995-1997 dalam Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Mahasiswa Sejarah (Forkomasa) Terakhir di Universitas Riau, dengan mengalahkan M Nursam (Universitas Gajah Mada) dan Indra P (Universitas Udayana).

vi) Indra menamatkan kuliah di Jurusan Sejarah pada tahun 1997, setelah kuliah selama 6 tahun (satu semester cuti), dengan skripsi yg berjudul: "Koreksi Demi Koreksi: Aktivitas Pergerakan Mahasiswa Indonesia Pasca Malari sampai Penolakan NKK/BKK (1974-1980)" dibawah bimbingan almh Soetopo Soetanto dengan penguji Susanto Zuhdi.